Kamis, 06 Januari 2011

Memasuki Bulan Syawal, What's next?

07-01-2011 / 04:48:46
Kembali atau Melanjutkan?tergantung dari pribadi anda.


Bisa kita amati dengan seksama, riak petasan atau kembang api di langit, pesta pora manusia di pusat belanja, kemacetan para pemudik di jalan menuju tanah air masing-masing dan tumpah ruahnya kata “KEMENANGAN”, bukankah itu semua ekspresi kegembiraan?

Bahwa masyarakat kita bergembira karena mereka telah sampai pada suatu tahapan baru menuntaskan ibadah sebulan berpuasa. Sebuah babak baru di bulan Syawal , kembali kepada kemaksiyatan dan keburukan ataukah benar-benar meninggalkan semua sifat keburukan menuju jiwa yang lebih baik?

Sobat..Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan latihan untuk menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertaqwa. Dengan taqwa kesulitan kita diberi jalan keluar, diberi rizki dari jalan yang tak di sangka-sangka, urusan kita dimudahkan, dan kesalahan dosa kita dimaafkan (insyaAlloh). Dengan taqwa, kita akan selamat dan berbahagia di dunia dan akhirat.


وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا


dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(QS.Ath Thalaq (65) : 3)


Setidaknya ada 5 semangat Ramadhan yang harus selalu kita miliki dan teruskan agar taqwa bisa dicapai manusia. Yaitu semangat belajar, beramal, bersabar, bersaudara dan peduli.

Yach benar sekali! Belajar. Sejak bulan Rajab dan Sya'ban kita mengkaji tentang hal-hal yang terkait dengan Ramadhan, Bahkan memulai memperbanyak puasa sunah di bulan sya’ban. Kajian-kajian ini berlanjut hingga Ramadhan usai kita lalui. Kuliah subuh, kajian dhuha, kultum ba'da dhuhur dan asar, ceramah menjelang taraweh, pesantren kilat, kajian kitab, kajian iktikaf dan aktifitas keilmuan lainnya semarak kita saksikan di mana-mana pada bulan tersebut.

Ramadhan telah mengajak kita untuk memperbanyak amal, di waktu siang dan malam hari. Shaum, shalat tarawih, tadarrus Quran, dzikir dan lain-lain, kita kerjakan dengan semangat saat itu. Tidak hanya kuantitas, kualitas pun selalu kita jaga. Berada ditengah-tengah lingkungan saleh membuat kompetisi kebaikan menjadi lebih hidup. Semua ingin mendapatkan kebaikan paling banyak, mendapat ampunan dari Alloh. Dibuktikan dengan mengurangi ‘kesibukan’ dunia dan memperbanyak ibadah.

Ramadhan telah melatih kita untuk bersabar. Bersabar untuk taat kepada-Nya semata-mata, meninggalkan maksiat, menanggung ujian dan menerima takdir, dalam situasi dan kondisi apapun, dalam suka maupun duka. Kesabaran itu terbukti, saat siang hari perut kita lapar, tenggorokan kita haus, kita tidak makan dan minum walaupun di depan kita banyak makanan dan minuman yang HALAL, dan tidak ada seorangpun yang melihat kita. Dan Kejujuran seolah menjadi sifat wajib bagi kita.

Ramadhan telah membimbing kita untuk bersaudara. Perbedaan jumlah rakaat taraweh, perbedaan masjid tempat beri'tikaf, perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan (jika ada), dan perbedaan-perbedan lain-nya, tidak menghalangi kita untuk hidup bersama dengan harmonis, saling menasehati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk terbiasa mencari titik temu dan persamaan, saling menolong dalam kesepakatan dan toleransi dalam perbedaan. Debat kusir dan permusuhan telah hilang karena masing-maing sedang berpuasa. Masing-masing menyadari keragaman dalam pemahaman dalam lingkup kebenaran Al Qur’an dan As Sunnah. Jauh dari taklid dan ikut-ikutan karena telah mempunyai dasar yang kuat untuk beramal ibadah.

Kelima adalah peduli. Memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, memperbanyak infaq, mengeluarkan zakat dan saling bernasehat dan mendoakan. Adalah bukti kepedulian kita kepada sesama. Kita berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik bagi siapa saja yang memerlukan. Memberikan sebagian makanan pokok sesuai yang kita makan, bukan yang paling murah atau jelek tapi yang terbaik. Kita selalu berbuat baik, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita.

Mari terus belajar, beramal, bersabar, bersaudara dan peduli. Untuk selama-lamanya. Janganlah kita menjadi golongan yang ‘terlihat’ sholeh tapi ketika 1 syawal dimulai maka lenyap sudah kesholehan. Kembali kepada kebebasan, kembali maksiyat dan kembali berbuat jahat. Karena bulan puasa itu bukan ‘berhenti sementara’ tetapi merubah dan mengganti pribadi menjadi taqwa sesuai yang diinginkan Allah swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu AGAR KAMU BERTAQWA (QS. Al Baqarah (2):183)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar